Mati di Atas Sunnah: Menghancurkan Mental Budak di Negeri Demokrasi Feodal

Di tengah riuh rendah panggung politik kontemporer, sebuah potongan video pendek dari Connie Rahakundini Bakrie sempat memantik kembali diskusi yang mendalam tentang kondisi bangsa. Dalam video tersebut, ia menyoroti satu frasa yang terasa menohok: Indonesia sedang kehilangan tradisi dan budaya negarawan. Yang tersisa di permukaan sering kali hanyalah drama perebutan jabatan, elit yang sibuk bersolek lewat pencitraan, serta suburnya mentalitas Asal Bapak Senang (ABS) demi mengamankan zona nyaman.

Realitas ini membawa kita pada sebuah paradoks sosiologi-politik yang sangat besar di Indonesia. Secara formal, kita adalah negara demokrasi yang menganut sistem pemilu langsung dan menjunjung kebebasan berpendapat. Namun, secara kultural, “software” yang berjalan di dalamnya justru terasa sangat feodal.

Bahkan, dalam banyak hal, feodalisme modern atau neo-feodal ini terasa lebih menyesakkan daripada sistem kerajaan formal. Jika di sistem kerajaan pergantian kekuasaan dan privilese keluarga terjadi secara jujur dan tertulis dalam aturan main, dalam demokrasi feodal, hal tersebut sering kali dibungkus rapi menggunakan manipulasi instrumen hukum, bantuan sosial (bansos), dan ilusi pilihan rakyat.

Menghadapi struktur yang sudah mengakar kuat ini, banyak di antara kita yang merasa lelah. Mengubah sistem makro yang korup dan feodal lewat jalur politik praktis sering kali terasa seperti mengurai benang kusut yang tak berujung. Pertanyaannya kemudian: Apakah ada jalan pintas (shortcut) untuk menuju tatanan yang lebih ideal?

Bagi seorang Muslim, khususnya yang berkomitmen memegang teguh manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, jawaban dari pencarian jalan pintas yang berkah itu sebenarnya telah tersedia sejak 14 abad yang lalu: kembali kepada Sunnah Nabi Sallallahu ’alaihi wa sallam.

Ketika kita berbicara tentang hidup dan mati di atas Sunnah, kita tidak sedang berbicara tentang ritual ibadah vertikal semata, melainkan tentang sebuah transformasi peradaban yang dimulai dari akar rumput. Sunnah adalah instrumen paling radikal sekaligus elegan untuk menghancurkan mentalitas feodal dari dalam jiwa manusia.

Menghancurkan Pengkultusan Makhluk Melalui Tauhid

Akar dari budaya feodal adalah pengkultusan terhadap manusia—baik karena jabatan, harta, popularitas, maupun garis keturunan. Dalam budaya feodal, pemimpin ditempatkan di atas pedestal yang tidak boleh disentuh salah, sementara pengikutnya merendahkan diri menjadi penjilat demi setitik keuntungan duniawi.

Sunnah datang untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan hanya kepada Pencipta makhluk. Rasulullah Sallallahu ’alaihi wa sallam menegaskan dalam khotbah perpisahannya yang monumental:

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian adalah satu. Ingatlah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula orang non-Arab atas orang Arab. Tidak ada keutamaan bagi orang berkulit merah atas yang berkulit hitam, tidak pula yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, kecuali dengan takwa.” (HR. Ahmad)

Ketika seorang Muslim menghujamkan prinsip ini ke dalam dadanya, mentalitas feodal itu otomatis runtuh. Ia tidak akan sudi menjadi penjilat yang menutup-nutupi kebenaran demi menyenangkan atasan (budaya ABS), karena ia tahu rezekinya diatur oleh Allah, bukan oleh sang pejabat. Di sisi lain, ketika ia mendapat amanah menjadi pemimpin, ia tidak akan menjadi sosok yang gila hormat atau antikritik, karena ia sadar derajatnya di hadnapan Allah sama dengan rakyat yang dipimpinnya.

Mengikis Feodalisme Melalui Konsep Khadimul Ummah

Dalam budaya feodal, rakyat ada untuk melayani penguasa. Keberhasilan seorang penguasa diukur dari seberapa patuh dan seberapa besar upeti yang bisa ditarik dari bawahannya. Sementara itu, Sunnah membalik logika tersebut secara total melalui konsep kepemimpinan sebagai khidmah (pelayanan).

Rasulullah Sallallahu ’alaihi wa sallam bersabda:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.” (HR. Abu Nu’aim)

Sejarah mencatat bagaimana para khalifah rasyidin yang berjalan tegak di atas Sunnah mempraktikkan hal ini tanpa sekat feodal.

  • Abu Bakar As-Siddiq tetap memerah susu kambing untuk janda-janda di kampungnya setelah ia dibaiat menjadi khalifah.

  • Umar bin Khattab memanggul sendiri gandum di tengah malam untuk keluarga kelaparan yang ia temukan saat blusukan rahasia. Ia menangis gemetar karena takut dituntut oleh Allah di akhirat kelak hanya karena ada seekor keledai yang terperosok akibat jalanan rusak di wilayah kekuasaannya.

Ketika pemimpin melihat jabatan sebagai beban pertanggungjawaban di hadapan Allah—bukan sebagai ajang fasilitas mewah dan kehormatan—maka tradisi negarawan yang hilang itu akan lahir kembali dengan sendirinya.

Tantangan Menjadi Ahlussunnah di Negeri Demokrasi

Tentu saja, membumikan nilai-nilai Sunnah di tengah alam demokrasi modern bukan tanpa hambatan. Ini adalah tantangan ruang batin tersendiri yang sangat berat. Demokrasi hari ini sering kali terjebak pada dua kutub ekstrem yang sama-sama melelahkan:

  1. Kutub Kebebasan Kebablasan: Di mana caci maki, hoaks, ghibah politik, dan pembunuhan karakter dianggap sebagai hal lumrah dalam dinamika oposisi.

  2. Kutub Command Politics: Di mana tumbuh kecenderungan neo-feodalisme, kritik dianggap sebagai serangan personal, dan akademisi serta masyarakat yang bersuara dicap anti-pemerintah.

Seorang Ahlussunnah dituntut untuk berdiri di tengah-tengah (wasathiyah) dengan penuh integritas melalui tiga pilar sikap:

  • Menjaga Lisan di Tengah Riuh Media Sosial: Di saat semua orang berlomba-lomba menghujat dan menyebarkan berita tanpa tabayun, Sunnah memerintahkan kita untuk menahan diri. “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari). Kritik tetap disampaikan, namun dengan adab, data yang valid, dan orientasi pada perbaikan, bukan untuk kepuasan nafsu menjatuhkan.

  • Menolak Pragmatisme yang Menghalalkan Segala Cara: Dalam sistem yang menghitung suara berdasarkan kuantitas kepala, politik uang dan manipulasi opini menjadi makanan sehari-hari. Berkomitmen pada Sunnah berarti berani berkata “tidak” pada kompromi-kompromi culas tersebut, meskipun konsekuensinya kita dianggap kaku atau dikucilkan dari lingkaran kekuasaan material.

  • Menghindari Sikap Ekstrem: Kita dilarang menjadi pemberontak yang membuat kerusakan dan pertumpahan darah yang mengorbankan rakyat kecil, namun kita juga diharamkan menjadi penjilat yang membenarkan kezaliman dan kemaksiatan penguasa demi mengemis jabatan.

Shortcut Nyata: Mulai dari Lingkaran yang Bisa Dikendalikan

Jika merombak tatanan politik makro membutuhkan waktu yang teramat lama dan energi yang melelahkan, maka shortcut terbaik dan paling realistis yang diajarkan oleh Sunnah adalah memulai perubahan dari apa yang ada di dalam genggaman kita.

Kita mungkin tidak punya kuasa untuk mengubah undang-undang atau menghentikan dinasti politik di tingkat pusat. Namun, kita memiliki kuasa penuh untuk menentukan bagaimana kita bersikap di lingkaran terdekat kita.

  • Jika Anda seorang pengusaha atau pelaku usaha: Terapkan Sunnah dengan membangun ekosistem bisnis yang bersih dari riba, penipuan, dan budaya penjilat di antara karyawan. Bayar gaji mereka sebelum keringatnya mengering, dan perlakukan mereka dengan keadilan yang manusiawi.

  • Jika Anda seorang kepala keluarga: Didik anak-anak di atas fondasi tauhid yang kokoh, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berkarakter, dan tidak memiliki mental budak atau mental feodal yang gemar menyembah materi.

  • Jika Anda seorang profesional: Berikan pelayanan terbaik yang melampaui ekspektasi (ihsan) sebagai bentuk dedikasi tertinggi kepada masyarakat.

Perubahan sebuah bangsa yang besar sering kali bukan bermula dari dekret politik di istana, melainkan dari akumulasi kesalehan-kesalehan kecil yang konsisten di ruang-ruang keluarga dan komunitas lokal.

Ketika pasar-pasar kita diisi oleh pedagang yang jujur, sekolah-sekolah kita diisi oleh pengajar yang ikhlas, dan rumah-rumah kita dihidupkan dengan Sunnah, maka sistem yang korup di atasnya lambat laun akan kekurangan pasokan “bahan bakar” untuk mempertahankan eksistensinya.

Menuju cita-cita ideal memang jalan yang panjang dan berliku. Namun, dengan berjalan di atas Sunnah dan bertekad untuk mati di atasnya, kita tidak sedang sekadar menunggu perubahan itu datang—kita sedang menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Wallahu a’lam bish-shawab.

This post has been viewed 122 times.