Menilik Suriah Baru: Mengenal Presiden Ahmed al-Sharaa dan Lembaran Baru Pasca-Assad
Dunia terperangah ketika pada Desember 2024, rezim dinasti Assad yang telah mencengkeram Suriah selama lebih dari setengah abad runtuh hanya dalam hitungan hari. Sejak Januari 2025, lanskap politik negara yang hancur oleh perang saudara ini resmi memasuki babak transisi di bawah kepemimpinan presiden barunya: Ahmed al-Sharaa.
Bagi sebagian besar pengamat internasional, nama ini mungkin terdengar baru. Namun di medan laga Suriah, sosoknya adalah salah satu aktor paling berpengaruh sekalIgus kontroversial selama satu dekade terakhir.
Siapa sebenarnya Ahmed al-Sharaa? Bagaimana pandangan politiknya dalam menavigasi Suriah di tahun 2026 ini? Dan apa perbedaan paling mendasar antara pemerintahannya dengan era diktator Bashar al-Assad? Mari kita ulas sekilas.
Sekilas Profil: Metamorfosis Sang Komandan Jihadi
Lahir di Riyadh, Arab Saudi pada tahun 1982 dari keluarga Muslim Sunni asal Dataran Tinggi Golan, Ahmed al-Sharaa tumbuh besar di Damaskus. Selama bertahun-tahun, dunia mengenalnya bukan dengan nama aslinya, melainkan dengan nama samaran militernya yang ditakuti: Abu Mohammad al-Julani.
Al-Sharaa memiliki rekam jejak panjang dalam gerakan militan. Ia pernah bergabung dengan Al-Qaeda di Irak pada tahun 2003 untuk melawan invasi Amerika Serikat, hingga akhirnya kembali ke Suriah pada 2011 untuk mendirikan Jabhat al-Nusra—afiliasi resmi Al-Qaeda di Suriah. Namun, sejarah mencatat al-Sharaa sebagai sosok yang sangat pragmatis. Sadar bahwa label “terorisme global” hanya akan mengisolasi gerakannya, ia mengambil langkah berani:
-
Memutus hubungan dengan Al-Qaeda pada tahun 2016.
-
Membentuk Hay’at Tahrir al-Sham (HTS), sebuah faksi yang memfokuskan diri murni pada penggulingan rezim Assad dan agenda domestik Suriah, bukan jihad global.
-
Belajar mengelola negara di wilayah Idlib melalui pemerintahan sipil bentukannya (Syrian Salvation Government), sebuah laboratorium politik tempat ia belajar membangun institusi, mengelola perdagangan, dan mendekati investor.
Ketika rezim Assad runtuh, al-Sharaa menanggalkan seragam militernya, mencukur rapi janggutnya, dan mulai mengenakan setelan jas formal ala diplomat Barat. Ia resmi bertransisi dari seorang panglima perang menjadi kepala negara Suriah yang diakui oleh dewan transisi nasional.
Pandangan Politik Ahmed al-Sharaa: Pragmatisme dan Diplomasi
Sebagai Presiden Suriah dalam masa transisi 5 tahun ini, pandangan Ahmed al-Sharaa berpusat pada penataan ulang (reset) total negara Suriah. Ada beberapa pilar utama dalam pandangan politiknya hari ini:
-
Pragmatisme Domestik dan Inklusi Terukur: Di dalam negeri, al-Sharaa menyadari Suriah adalah mosaik etnis dan agama yang kompleks. Berbeda dengan masa lalunya yang radikal, ia kini menyerukan koeksistensi damai. Sebagai contoh nyata, pemerintahannya baru-baru ini merangkul kelompok Kurdi (SDF) melalui dekret yang mengakui bahasa Kurdi dan mengintegrasikan mereka ke dalam institusi negara. Meski mengusung hukum Islam (Islamic jurisprudence) sebagai sumber utama legislasi dalam deklarasi konstitusinya, ia mencoba menampilkan wajah Islam yang lebih moderat dan birokratis demi menarik simpati internasional.
-
Fokus Rekonstruksi, Bukan Perang Baru: Suriah saat ini dalam kondisi porak-poranda akibat perang selama 13 tahun lebih. Pandangan ekonomi al-Sharaa sangat berorientasi pada pasar bebas, perlindungan investasi, dan pemulihan jalur dagang. Terkait ketegangan dengan Israel di perbatasan selatan (terutama masalah Dataran Tinggi Golan), al-Sharaa menegaskan bahwa Suriah secara prinsipil bermusuhan dengan pendudukan Israel, namun menolak terlibat dalam perang terbuka karena prioritas utamanya adalah pemulihan ekonomi dalam negeri.
-
Diplomasi Multipolar: Al-Sharaa gencar melakukan lawatan ke luar negeri, mulai dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA untuk mencari bantuan dana pemulihan, hingga menjalin komunikasi dengan Turki dan negara-negara Barat untuk melunasi sanksi ekonomi yang selama ini mencekik Suriah.
Perbedaan Mendasar: Pemerintahan Al-Sharaa vs. Rezim Bashar al-Assad
Pergeseran kekuasaan dari Bashar al-Assad ke Ahmed al-Sharaa membawa perubahan struktural yang sangat radikal bagi masa depan Suriah dan geopolitik Timur Tengah.
| Aspek Perbandingan | Era Bashar al-Assad (Lama) | Era Ahmed al-Sharaa (Baru) |
|---|---|---|
| Poros Aliansi Regional | Bagian dari Axis of Resistance (Poros Perlawanan): Assad menjadikan Suriah sebagai boneka dan rute logistik utama bagi militer Iran dan Hezbollah Lebanon untuk menancapkan pengaruh di Mediterania. | Anti-Pengaruh Iran: Pemerintahan baru al-Sharaa secara total memutus hubungan dengan Teheran, mengusir milisi Syiah asing, dan berbalik merapat ke negara-negara Arab Sunni serta membuka dialog dengan Barat. |
| Basis Kekuasaan Domestik | Dominasi Minoritas Sekuler: Kekuasaan berpusat pada klan keluarga Assad dan kelompok minoritas Syiah Alawit melalui jaringan intelijen militer (Mukhabarat) yang sangat represif. | Dominasi Mayoritas Sunni Baru: Kekuasaan kembali ke tangan mayoritas Sunni Suriah. Meskipun al-Sharaa berjanji melindungi hak-hak minoritas (Kristen, Druze, Alawit), jalurnya kini lebih bernuansa religius-konservatif. |
| Gaya Represi dan Kontrol | Teror Negara Tanpa Batas: Menggunakan bom barel, senjata kimia, dan penjara bawah tanah untuk menyiksa warga sipil demi mempertahankan kursi kekuasaan. | Otoritarianisme Institusional: Kontrol keamanan tetap ketat demi stabilitas, namun al-Sharaa lebih memilih pendekatan restrukturisasi hukum melalui parlemen baru dan pembentukan lembaga peradilan untuk menghapus sistem represif era Assad. |
| Hubungan dengan Barat & Arab | Terisolasi dan Kena Sanksi: Diasingkan oleh dunia Arab dan dijatuhi sanksi berlapis (Caesar Act) oleh AS dan Eropa. | Mulai Diterima Secara Pragmatis: Negara-negara Arab dan Barat mulai membuka jalur diplomasi karena melihat al-Sharaa sebagai opsi terbaik untuk mencegah kekosongan kekuasaan (power vacuum) dan membendung pengaruh Iran. |
Tantangan ke Depan
Apakah Suriah baru di bawah Ahmed al-Sharaa akan benar-benar bertransformasi menjadi negara yang demokratis dan makmur? Jalannya masih sangat panjang dan terjal. Kritikus dan aktivis HAM masih menaruh curiga yang mendalam bahwa di balik setelan jas necisnya, al-Sharaa tetaplah seorang otokrat yang hanya mengubah strategi dari peluru menjadi birokrasi. Ketegangan internal antar-faksi revolusioner serta penanganan keadilan transisional bagi korban-korban perang masa lalu masih menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Satu hal yang pasti: Suriah hari ini bukan lagi Suriah yang dulu. Di bawah kendali Ahmed al-Sharaa, Damaskus sedang mencoba menulis ulang takdirnya, keluar dari bayang-bayang dinasti Assad, dan mencari tempat baru di panggung politik dunia.
This post has been viewed 297 times.



