Menolak Ruku’ kepada Tenno Heika: Ketika Keteguhan Tauhid Para Ulama Meruntuhkan Angkuh Laras Senapan Jepang

Sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya ditulis dengan tinta diplomat atau darah para gerilyawan di medan tempur. Ada satu lembar sejarah yang ditulis dengan air mata, keteguhan hati, dan patahnya tulang-tulang jemari para ulama demi mempertahankan sebuah prinsip yang tidak bisa ditawar oleh kuasa dunia mana pun: Tauhid adalah harga mati.
Ketika bala tentara Jepang mendarat di Nusantara pada tahun 1942, mereka datang dengan propaganda memikat sebagai “Saudara Tua” yang akan membebaskan Asia dari cengkeraman imperialisme Barat. Namun, di balik semboyan muluk Gerakan Tiga A, Jepang membawa sebuah ambisi kultural dan spiritual yang fasis: memaksakan heroisme buta dan kultus individu kepada Kaisar mereka, Tenno Heika, yang diyakini sebagai titisan langsung dari Amaterasu Omikami (Dewa Matahari).
Manifestasi dari kultus ini mewujud dalam sebuah perintah harian yang wajib dilaksanakan oleh seluruh rakyat di tanah jajahan: Seikerei.
Setiap pagi, bertepatan dengan berbunyinya sirene atau komando militer, seluruh badan harus dihadapkan ke arah timur laut (arah Tokyo, kediaman Kaisar) lalu membungkukkan badan sedalam 90 derajat. Bagi Jepang, ini adalah penghormatan tertinggi kepada sang kaisar sekaligus simbol ketundukan total mutlak. Namun bagi umat Islam, gerakan membungkuk sedalam itu adalah ruku’—sebuah gerakan ibadah yang hak prerogatifnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Melakukannya kepada makhluk, terlebih kepada kaisar yang mendaku diri sebagai anak dewa, adalah perbuatan syirik akbar yang meruntuhkan fondasi Islam.
Di sinilah benturan peradaban dan iman itu terjadi. Di awal masa pendudukan menuju gerbang kemerdekaan, para ulama pendahulu tegak berdiri sebagai benteng akidah. Mereka memilih disiksa, dipenjara, bahkan dihujani peluru ketimbang harus melengkungkan punggung mereka di hadapan selain Sang Pencipta.
Berikut adalah kisah heroik para ulama pendahulu kita yang dengan gagah berani menolak Seikerei, menjaga kesucian tauhid demi masa depan bangsa yang merdeka di bawah rida Allah.
1. Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari: Jari-Jari yang Patah demi Tegaknya Kalimat Tauhid
Di garis paling depan perlawanan kultural ini, berdiri sosok ulama kharismatik pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy’ari. Sebagai poros spiritual kaum santri di Jawa, pandangan beliau terhadap kebijakan Jepang menjadi rujukan utama bagi jutaan umat.
Ketika perintah Seikerei mulai dipaksakan di lingkungan pesantren dan masyarakat umum, KH. Hasyim Asy’ari secara terang-terangan melarangnya. Beliau menegaskan bahwa ruku’ dan sujud hanya boleh dipersembahkan kepada Allah. Bagi beliau, menundukkan kepala kepada manusia dengan cara seperti itu sama saja dengan menyekutukan Allah.
Melihat pembangkangan terbuka dari seorang tokoh yang memiliki pengaruh massa begitu masif, militer Jepang (Kempeitai) tidak tinggal diam. Pada April 1942, Pesantren Tebuireng digerebek. KH. Hasyim Asy’ari ditangkap dengan kasar dan dijebloskan ke dalam penjara.
Beliau dipindahkan dari satu sel tahanan ke sel tahanan lainnya—mulai dari Jombang, Mojokerto, hingga ke penjara Bubutan di Surabaya. Di dalam jeruji besi yang dingin dan pengap, beliau mengalami siksaan fisik yang sangat biadab. Kempeitai menggunakan berbagai cara untuk mematahkan mental sang kiai. Salah satu siksaan yang paling kejam adalah ketika jari-jari tangan kanan beliau dihantam dan dijepit menggunakan palu besi.
Akibat siksaan brutal tersebut, jari-jari tangan kanan Hadratussyaikh patah dan mengalami cacat permanen hingga akhir hayatnya, tidak dapat digerakkan dengan normal lagi. Namun, Jepang salah besar. Mereka mengira rasa sakit fisik bisa meruntuhkan benteng akidah seorang ulama. Di dalam sel, dengan tangan yang membengkak, hancur, dan berlumuran darah, KH. Hasyim Asy’ari justru tiada henti melantunkan zikir dan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Beliau tetap teguh pada pendiriannya: kepala ini tidak akan pernah membungkuk kepada Kaisar Jepang.
Keteguhan Hadratussyaikh akhirnya memaksa Jepang bertekuk lutut secara politis. Menyadari bahwa penahanan KH. Hasyim Asy’ari justru memicu kemarahan mendalam di kalangan santri dan berpotensi menyulut pemberontakan massal yang merugikan posisi Jepang dalam Perang Pasifik, mereka akhirnya membebaskan beliau setelah beberapa bulan ditahan.
2. Ki Bagus Hadikusumo: Keberanian Menatap Mata Komandan Kempeitai
Jika di Jawa Timur Hadratussyaikh menjadi batu karang, maka di Yogyakarta berdiri kokoh Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Pengurus Besar Muhammadiyah yang menjabat sejak tahun 1942.
Jepang memandang Muhammadiyah sebagai organisasi modern dengan jaringan sekolah dan anggotanya yang sangat luas. Oleh karena itu, Jepang merasa perlu menjinakkan kepemimpinan Muhammadiyah agar mau menginstruksikan seluruh warganya melakukan Seikerei. Ki Bagus Hadikusumo kemudian dipanggil langsung ke markas Kempeitai di Yogyakarta untuk menghadap sang komandan, Kolonel Tsuda.
Di dalam ruangan yang penuh dengan aura intimidasi militer, Kolonel Tsuda menuntut dengan nada mengancam agar Muhammadiyah segera mematuhi perintah Seikerei. Menghadapi gertakan perwira tinggi militer yang terkenal kejam itu, Ki Bagus Hadikusumo sama sekali tidak gentar. Beliau menatap balik mata sang komandan dengan pandangan yang tenang namun sarat akan ketegasan.
Dengan suara yang mantap, Ki Bagus menjawab, “Tidak mungkin Tuan. Agama Islam melarang.”
Mendengar penolakan yang begitu lugas, ruangan sempat memanas. Terjadi ketegangan hebat, bahkan sang komandan Jepang sampai menggebrak meja untuk menggertak iman sang kiai. Namun, gertakan itu mental. Ki Bagus dengan argumen yang logis dan teologis menjelaskan bahwa bagi umat Islam, menghadapkan wajah dan membungkukkan badan demi mengkultuskan manusia adalah dosa terbesar.
Melihat keteguhan prinsip yang tidak goyah sedikit pun oleh ancaman kematian, pihak militer Jepang akhirnya melunak. Mereka menyadari bahwa kaum pergerakan Islam di bawah motor Muhammadiyah memiliki harga diri yang tidak bisa dibeli atau ditakut-takuti jika sudah menyangkut urusan keyakinan. Ki Bagus berhasil menyelamatkan akidah warganya dari kewajiban syirik tersebut melalui keberanian diplomasi yang luar biasa.
3. Buya Hamka: Diplomasi Pena dan Mimbar di Ranah Minang
Beralih ke Pulau Sumatera, tepatnya di Ranah Minang, sosok Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang lebih dikenal sebagai Buya Hamka, juga berdiri sebagai penentang keras kebijakan kembaran budaya Jepang ini.
Buya Hamka melihat bahwa pendudukan Jepang tidak hanya menjajah secara fisik dan ekonomi, tetapi juga mencoba melakukan penetrasi spiritual yang merusak struktur berpikir tauhid masyarakat Nusantara. Sebagai seorang ulama yang jurnalis dan sastrawan, Buya Hamka menggunakan kekuatan retorika, mimbar, dan tulisan-tulisannya untuk mengedukasi masyarakat agar tidak terjebak dalam tipu daya propaganda Jepang.
Ketika Jepang mewajibkan Seikerei di kantor-kantor pemerintahan dan sekolah-sekolah di Sumatera Barat, Buya Hamka secara konsisten menyuarakan keberatannya. Beliau menggunakan jalur diplomasi dan argumen keagamaan yang sangat kuat ketika berhadapan dengan para pejabat pendudukan Jepang (Gunseibu). Beliau menjelaskan secara terperinci posisi ruku’ dalam salat dan mengapa tindakan mengarahkan penghormatan ibadah kepada makhluk hidup, apa pun jabatannya, bertentangan secara diametral dengan konsep kalimat Laa Ilaha Illallah.
Melalui pendekatan yang cerdas tanpa mengurangi ketegasan prinsip, Buya Hamka berhasil menguatkan hati masyarakat Sumatra agar tetap menjaga jarak spiritual dari ritual-ritual paganisme modern yang dibawa oleh tentara Dai Nippon.
4. KH. Zainal Musthafa: Perlawanan Senjata dari Pesantren Sukamanah
Jika para ulama lain melakukan penolakan melalui jalur kultural, bertahan dalam penjara, atau menggunakan jalur diplomasi, maka KH. Zainal Musthafa memilih jalur yang paling radikal: perlawanan fisik bersenjata. Beliau adalah pemimpin Pesantren Sukamanah di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Bagi KH. Zainal Musthafa, kekejaman Jepang yang memeras keringat rakyat lewat romusha, merampas hasil bumi, ditambah kewajiban melakukan Seikerei, sudah melewati batas toleransi kemanusiaan dan keimanan. Beliau dengan tegas melarang seluruh santrinya dan masyarakat Tasikmalaya untuk memutar badan ke arah Tokyo setiap pagi. Beliau menyatakan bahwa menuruti perintah Seikerei adalah murtad dan mengkhianati Allah.
Khotbah-khotbah KH. Zainal Musthafa yang membakar semangat jihad terdengar sampai ke telinga pemerintah penjajah. Jepang mencoba mengirim utusan untuk membujuk dan memperingatkan sang kiai, namun utusan-utusan tersebut justru ditahan oleh para santri karena dinilai membawa misi kemusyrikan.
Sadar bahwa konfrontasi tidak terelakkan, KH. Zainal Musthafa mempersiapkan para santrinya dengan latihan fisik dan spiritual. Puncaknya terjadi pada tanggal 25 Februari 1944. Pasukan militer Jepang dengan persenjataan lengkap mengepung dan menyerang Pesantren Sukamanah.
Terjadilah pertempuran yang sangat tidak seimbang. Para santri yang hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, dan batu, melawan senapan mesin dan bayonet tentara Jepang. Puluhan santri gugur sebagai syuhada di medan laga demi membela kehormatan tauhid mereka. KH. Zainal Musthafa akhirnya ditangkap bersama ratusan santri yang tersisa.
Beliau dibawa ke Jakarta, diinterogasi dengan siksaan yang luar biasa kejam, namun tidak pernah sekali pun menyatakan tunduk pada kemauan Jepang. Hingga akhirnya, pada Oktober 1944, KH. Zainal Musthafa dieksekusi mati secara rahasia di Jakarta. Beliau gugur, namun darahnya menjadi saksi abadi bahwa di tanah pertiwi ini, ada ulama yang lebih memilih kehilangan nyawa ketimbang kehilangan tauhidnya.
Warisan Perjuangan: Melunaknya Aturan Jepang dan Hikmah bagi Generasi Penerus
Keteguhan kolektif yang ditunjukkan oleh para ulama pendahulu kita ini pada akhirnya membuahkan hasil yang monumental. Jepang, yang awalnya begitu pongah dan otoriter, perlahan mulai sadar bahwa menekan urusan akidah umat Islam di Indonesia adalah kesalahan strategi terbesar mereka dalam Perang Dunia II. Pemberontakan di Tasikmalaya dan mogok massalnya kaum santri di berbagai daerah menjadi alarm bahaya bagi stabilitas politik militer Jepang.
Melalui jalur negosiasi yang kemudian dilanjutkan oleh tokoh-tokoh muda Islam, salah satunya adalah putra KH. Hasyim Asy’ari sendiri, yaitu KH. Wahid Hasyim, pihak Jepang akhirnya terpaksa melonggarkan aturan tersebut. Pemerintah pendudukan Jepang mengeluarkan kebijakan baru yang mengecualikan umat Islam dari kewajiban melakukan Seikerei. Kewajiban tersebut diganti dengan penghormatan biasa tanpa harus membungkuk menyerupai ruku’ salat, atau bahkan dalam beberapa kasus benar-benar ditiadakan bagi kalangan pesantren.
Kisah penolakan Seikerei ini memberikan kita, generasi yang hidup di alam kemerdekaan, sebuah pelajaran berharga yang sangat mendalam:
-
Tauhid Bukan Sekadar Lisan: Bagi para ulama pendahulu, tauhid bukan sekadar teori yang dibahas di dalam kitab-kitab kuning di atas meja musyawarah. Tauhid adalah prinsip hidup dan mati yang mengalir dalam darah dan menggerakkan setiap sendi tindakan nyata.
-
Kemerdekaan Hakiki Dimulai dari Jiwa: Bangsa ini tidak akan pernah merdeka secara fisik jika jiwanya masih terjajah dan mau menghambakan diri kepada kekuatan duniawi yang fana. Dengan membebaskan diri dari ketundukan kepada makhluk (Tenno Heika), para ulama sebenarnya sedang meletakkan dasar kemerdekaan sejati bagi bangsa Indonesia.
-
Keberanian Berbasis Iman: Keberanian KH. Hasyim Asy’ari yang menahan sakitnya jemari yang hancur, keberanian Ki Bagus Hadikusumo menatap mata komandan Kempeitai, ketajaman argumen Buya Hamka, hingga syahidnya KH. Zainal Musthafa, semuanya bersumber dari satu mata air yang sama: rasa takut yang teramat besar hanya kepada Allah, sehingga mencabut rasa takut kepada seluruh makhluk-Nya.
Kini, tugas kita adalah merawat warisan iman dan kemerdekaan yang telah ditebus dengan harga yang teramat mahal ini. Di era modern, tantangan terhadap tauhid mungkin tidak lagi berbentuk paksaan fisik untuk ruku’ menghadap matahari terbit. Bentuknya bisa berupa sekularisme, materialisme, hedonisme, atau pengkultusan terhadap ideologi-ideologi modern yang menjauhkan manusia dari penciptanya.
Namun, selama kita mengingat dan meneladani darah perjuangan para guru-guru bangsa kita terdengar kembali gema prinsip yang mereka perjuangkan: Bahwa di atas bumi pertiwi ini, kepala kita hanya boleh tertunduk, dan punggung kita hanya boleh membungkuk, di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selamanya, Tauhid adalah harga mati!
This post has been viewed 181 times.



