Pernahkah kamu terbangun dari tidur setelah mengalami mimpi yang terasa begitu nyata?
Saat berada di dalam mimpi, kita bisa tertawa, menangis, takut, bertemu seseorang, bahkan merasa sedang menjalani kehidupan seperti biasa. Namun ketika mata terbuka, barulah kita menyadari bahwa semua itu ternyata hanya mimpi.
Ada satu hal menarik dari keadaan tersebut: ketika sedang bermimpi, kita sering kali tidak sadar bahwa kita sedang bermimpi.
Gambar ilustrasi
Tanpa disadari, kondisi itu dapat menjadi sebuah renungan tentang kehidupan manusia. Sebab, ada kalanya seseorang begitu larut dalam kehidupan dunia hingga lupa bahwa waktu terus berjalan dan kehidupan tidak akan berlangsung selamanya.
Terlena dengan Kehidupan Dunia
Dunia memang terasa nyata. Kita bekerja, belajar, mencari uang, mengejar cita-cita, membangun rumah, membeli barang yang diinginkan, berkumpul bersama orang-orang yang disayangi, dan merencanakan masa depan.
Semua itu merupakan bagian dari kehidupan.
Namun, terkadang kesibukan tersebut membuat manusia lupa bahwa kehidupan dunia memiliki batas.
Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, serta tempat manusia saling berbangga dan berlomba dalam harta maupun anak.
Pesan tersebut terdapat dalam QS. Al-Hadid ayat 20.
Bukan berarti seorang Muslim dilarang menikmati kehidupan dunia. Bekerja, mencari rezeki, memiliki cita-cita, dan membahagiakan keluarga tentu bukan sesuatu yang salah.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika urusan dunia membuat seseorang melupakan tujuan hidupnya.
Kita Sering Bertingkah Seolah Masih Punya Banyak Waktu
Salah satu hal yang sering terjadi adalah menunda.
“Besok saja mulai berubah.”
“Nanti kalau sudah tua baru lebih rajin ibadah.”
“Nanti kalau sudah punya banyak uang baru bersedekah.”
“Nanti kalau hati sudah siap baru bertaubat.”
Masalahnya, tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama waktu yang masih dimilikinya.
Hari ini seseorang masih bisa bercanda bersama keluarga. Besok, mungkin orang tersebut sudah tidak ada.
Hari ini seseorang masih bisa membuka Al-Qur’an. Suatu saat nanti, mungkin tangannya tidak lagi mampu membalik halaman.
Hari ini seseorang masih memiliki kesempatan meminta maaf. Namun tidak ada jaminan bahwa kesempatan tersebut akan selalu tersedia.
Karena itu, kehidupan seharusnya tidak hanya diisi dengan mengejar sesuatu yang belum tentu kita nikmati selamanya.
Dunia Bukan Tempat untuk Selamanya
Dalam QS. Ali ‘Imran ayat 185, Allah SWT mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian.
Ayat tersebut juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan, sedangkan kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang sebenarnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kematian bukan sesuatu yang hanya akan terjadi kepada orang lain.
Cepat atau lambat, setiap manusia akan menghadapinya.
Perbedaannya hanya satu: tidak ada yang tahu kapan waktunya tiba.
Karena itu, jangan sampai seseorang baru menyadari pentingnya berbuat baik ketika kesempatan sudah berakhir.
Kalau Dunia Adalah Mimpi, Kapan Kita Akan Terbangun?
Analogi tentang mimpi bukan berarti kehidupan dunia secara harfiah hanyalah mimpi. Kehidupan dunia adalah nyata dan setiap perbuatan manusia memiliki konsekuensi.
Namun, perumpamaan tersebut bisa menjadi bahan renungan.
Saat bermimpi, kita tidak selalu sadar bahwa waktu sedang berjalan. Kita baru menyadarinya setelah terbangun.
Begitu pula manusia. Terkadang seseorang baru menyadari betapa cepatnya waktu berlalu ketika melihat dirinya sudah bertambah usia.
Dulu masih bermain bersama teman.
Kemudian sekolah.
Lalu bekerja.
Menikah.
Memiliki keluarga.
Dan tanpa terasa, rambut mulai memutih.
Waktu ternyata tidak pernah berhenti menunggu kita siap.
Jangan Menunggu Kehilangan untuk Menghargai
Ada orang yang baru menghargai kesehatan setelah sakit.
Ada yang baru merindukan orang tua setelah mereka tiada.
Ada yang baru ingin memperbaiki hubungan setelah semuanya terlambat.
Ada pula yang baru ingin memperbanyak amal ketika menyadari usia tidak lagi muda.
Padahal, kesempatan terbaik untuk memperbaiki diri adalah saat kita masih diberi kesempatan untuk melakukannya.
Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah.
Mulailah dari hal sederhana.
Menjaga salat.
Memperbanyak doa.
Membaca Al-Qur’an.
Meminta maaf ketika melakukan kesalahan.
Bersedekah sesuai kemampuan.
Berbuat baik kepada orang tua.
Menolong orang lain.
Dan meninggalkan sesuatu yang memang kita tahu tidak baik.
Selagi Masih Bisa Bangun, Masih Ada Kesempatan
Setiap pagi ketika membuka mata setelah tidur, sebenarnya ada sebuah kesempatan baru.
Kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kemarin.
Kesempatan untuk meminta maaf.
Kesempatan untuk beribadah lebih baik.
Kesempatan untuk melakukan kebaikan yang mungkin selama ini tertunda.
Tidak ada yang tahu apakah esok pagi kita masih mendapatkan kesempatan yang sama.
Maka, jangan terlalu terlena dengan dunia sampai lupa bahwa waktu terus berjalan.
Sebab suatu hari nanti, kita semua akan sampai pada sebuah “bangun” yang tidak seperti biasanya.
Bukan bangun dari mimpi untuk kembali menjalani aktivitas dunia, tetapi bangun untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.
Dan ketika saat itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang hari yang telah berlalu.
Jadi, selagi masih diberi waktu, mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri:
Jika hari ini adalah kesempatan yang Allah berikan kepadaku untuk terakhir kalinya, sudahkah aku menggunakannya untuk sesuatu yang berarti?