Mengapa Pesugihan Selalu Meminta Tumbal? Tinjauan Akidah Ahlus Sunnah terhadap Fenomena Mistis
Cerita mengenai pesugihan hampir selalu menjadi bagian dari cerita rakyat di berbagai daerah di Indonesia. Gunung Kawi, Pantai Selatan, hingga berbagai lokasi yang dianggap keramat sering dikaitkan dengan kisah orang-orang yang mencari kekayaan melalui jalan gaib. Di media sosial pun beredar banyak pengakuan yang menceritakan pengalaman keluarga yang konon pernah bersentuhan dengan praktik-praktik tersebut.

Sebagian kisah mengandung unsur yang sangat dramatis: ritual tertentu, sesajen, syarat tumbal, benda-benda mistis, hingga gangguan yang disebut terus menghantui keturunan pelakunya. Terlepas dari benar atau tidaknya setiap cerita yang beredar, seorang Muslim perlu memiliki cara pandang yang benar agar tidak terjebak dalam rasa takut maupun rasa kagum terhadap hal-hal gaib.
Cerita Mistis dan Kehati-hatian Seorang Muslim
Banyak kisah yang beredar berasal dari pengalaman pribadi seseorang atau cerita turun-temurun. Kisah seperti ini tidak dapat dijadikan dalil agama. Dalam Islam, perkara gaib hanya dapat dipastikan berdasarkan Al-Qur’an dan hadis yang sahih.
Karena itu, sikap seorang Muslim bukanlah langsung mempercayai semua cerita mistis, tetapi juga tidak menutup kemungkinan adanya gangguan jin, sebab keberadaan jin memang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Yang harus dihindari adalah membangun keyakinan di atas cerita yang belum jelas kebenarannya.
Mengapa Pesugihan Selalu Dikaitkan dengan Jin?
Dalam pandangan ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, praktik perdukunan, sihir, dan pesugihan termasuk bentuk penyimpangan akidah apabila melibatkan permintaan bantuan kepada jin atau melakukan ritual yang mengandung unsur syirik.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa sebagian manusia memang meminta pertolongan kepada jin sehingga hubungan tersebut justru menambah kesesatan. Tujuan utama setan bukanlah membuat manusia kaya, melainkan menyesatkan manusia dari jalan tauhid.
Karena itu, apabila ada praktik yang mensyaratkan sesajen, ritual tertentu, persembahan, atau bentuk penghambaan kepada selain Allah, maka seorang Muslim wajib menjauhinya.
Benarkah Jin Dapat Memberikan Kekayaan?
Inilah pertanyaan yang sering muncul.
Jika jin tidak memiliki kekuasaan mutlak, mengapa banyak orang mengaku memperoleh kekayaan setelah melakukan ritual tertentu?
Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa manfaat dan mudarat mutlak berada di tangan Allah semata. Tidak ada makhluk, termasuk jin, yang mampu menciptakan rezeki, memberi kekayaan, atau mencabut nyawa secara mandiri.
Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 102 bahwa sihir tidak dapat membahayakan seseorang kecuali dengan izin Allah.
Artinya, jin bukan pencipta manfaat maupun mudarat. Mereka hanyalah makhluk yang mampu melakukan tipu daya, membisikkan godaan, atau menjadi sebab tertentu atas izin Allah. Kekuasaan mereka sangat terbatas.
Mengapa Jin Meminta Tumbal?
Jika jin tidak berkuasa, mengapa dalam banyak cerita mereka meminta tumbal?
Dalam sudut pandang akidah Islam, tujuan utama setan bukanlah mendapatkan darah atau makanan manusia, tetapi merusak tauhid.
Tumbal, sesajen, maupun ritual hanyalah sarana agar manusia melakukan bentuk penghambaan kepada selain Allah. Ketika seseorang rela mempersembahkan sesuatu demi memperoleh bantuan makhluk gaib, saat itulah ia telah terjatuh dalam bentuk kesyirikan apabila ritual tersebut memang ditujukan sebagai ibadah atau pendekatan kepada selain Allah.
Dengan kata lain, yang diinginkan setan bukan sekadar persembahan, melainkan rusaknya keimanan manusia.
Bagaimana dengan Kisah “Ingkung Dere”?
Di masyarakat Jawa terdapat berbagai istilah yang dikaitkan dengan praktik mistis. Salah satunya adalah istilah “ingkung dere” yang dalam sebagian cerita rakyat ditafsirkan sebagai simbol tumbal anak perempuan.
Namun perlu dipahami bahwa tafsir seperti ini berasal dari cerita masyarakat dan tidak memiliki landasan syariat. Karena itu, kita tidak boleh memastikan bahwa setiap penggunaan istilah tersebut memang selalu bermakna demikian.
Yang dapat dipastikan dalam Islam hanyalah bahwa membunuh manusia, mengorbankan nyawa demi kekayaan, ataupun melakukan ritual syirik merupakan dosa besar yang sangat diharamkan.
Mengapa Banyak Orang Tetap Percaya?
Secara psikologis, manusia sering tertarik kepada solusi yang terlihat instan.
Ketika menghadapi kemiskinan, utang, atau tekanan hidup, sebagian orang tergoda mencari jalan pintas. Di sinilah setan menghiasi keburukan agar tampak indah.
Padahal, jalan yang tampak mudah sering kali justru membawa kerusakan yang jauh lebih besar, baik terhadap agama, keluarga, maupun ketenangan jiwa.
Islam mengajarkan bahwa rezeki tidak hanya berupa banyaknya harta, tetapi juga keberkahan, ketenangan hati, kesehatan, dan kecukupan.
Umrah atau Pesugihan?
Dalam percakapan tersebut muncul sebuah pertanyaan menarik.
Jika seseorang ingin keluar dari kemiskinan, mengapa tidak memilih umrah daripada mencari pesugihan?
Pertanyaan ini mengingatkan kita kepada hadis Nabi Muhammad ﷺ yang menjelaskan bahwa haji dan umrah dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana api menghilangkan karat pada besi.
Hadis ini dipahami para ulama sebagai kabar gembira bahwa ibadah yang ikhlas menjadi sebab datangnya keberkahan rezeki. Namun, bukan berarti setiap orang yang selesai umrah pasti langsung menjadi kaya raya dalam hitungan hari.
Allah memberi rezeki melalui berbagai jalan yang Dia kehendaki. Terkadang berupa kelapangan usaha, peluang kerja yang lebih baik, hati yang merasa cukup, atau keberkahan pada harta yang dimiliki.
Berbeda dengan pesugihan yang menawarkan janji instan tanpa dasar yang benar, ibadah mengajarkan kesabaran, tawakal, dan keyakinan kepada Allah.
Hidayah Lebih Berharga daripada Kekayaan
Perbedaan terbesar antara jalan tauhid dan jalan kesyirikan bukan sekadar hasil dunia yang dijanjikan.
Jalan tauhid mengarahkan manusia kepada ridha Allah dan keselamatan akhirat.
Sebaliknya, jalan kesyirikan, apabila benar-benar dilakukan, justru menghancurkan fondasi keimanan seseorang.
Karena itu, seorang Muslim hendaknya tidak terpesona oleh cerita-cerita mengenai kesaktian, pesugihan, atau kemampuan gaib. Kalaupun sebagian kisah mengandung unsur yang benar, semua itu tetap tidak mengubah prinsip bahwa hanya Allah yang memiliki kekuasaan mutlak atas seluruh makhluk.
Penutup
Fenomena pesugihan telah lama menjadi bagian dari cerita masyarakat Indonesia. Sebagian kisah mungkin hanya legenda, sebagian lagi merupakan pengalaman yang belum dapat diverifikasi. Sikap terbaik bagi seorang Muslim adalah bersikap proporsional: tidak mudah mempercayai setiap cerita, tetapi juga tidak meremehkan bahaya kesyirikan yang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah.
Akidah Ahlus Sunnah menegaskan bahwa jin adalah makhluk Allah yang memiliki kemampuan tertentu, tetapi sama sekali tidak memiliki kekuasaan mutlak untuk memberi manfaat atau mudarat tanpa izin-Nya. Oleh karena itu, menggantungkan harapan kepada jin, dukun, atau ritual pesugihan merupakan jalan yang bertentangan dengan tauhid.
Sebaliknya, Islam mengajarkan agar manusia mencari rezeki melalui ikhtiar yang halal, memperbanyak doa, memperkuat tawakal, menjaga ibadah, serta meyakini bahwa keberkahan yang datang dari Allah jauh lebih bernilai daripada kekayaan yang diperoleh melalui jalan yang diharamkan. Pada akhirnya, harta hanyalah titipan, sedangkan keselamatan akidah adalah bekal yang akan dibawa hingga kehidupan akhirat.
This post has been viewed 321 times.


.jpeg)