Pagi hari berangkat bekerja, siang sibuk dengan pekerjaan, sore masih mengejar target, malam tubuh sudah terasa lelah. Begitulah rutinitas banyak orang setiap hari demi memenuhi kebutuhan hidup.

Mencari nafkah tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan, bekerja untuk mendapatkan rezeki yang halal merupakan bagian dari ikhtiar yang baik.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri?

Apakah kesibukan mencari uang sudah membuat kita mulai mengabaikan sholat?

Ada orang yang rela menunda makan karena pekerjaan belum selesai. Ada yang rela menempuh perjalanan jauh demi mencari penghasilan. Tetapi ketika waktu sholat tiba, terkadang justru muncul alasan untuk menundanya.

Padahal, uang yang kita kejar hari ini bukanlah sesuatu yang akan kita bawa selamanya.

Mencari Rezeki Itu Penting, Tetapi Jangan Melupakan Allah

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk bermalas-malasan atau meninggalkan pekerjaan.

Allah justru memerintahkan manusia untuk berusaha mencari karunia-Nya.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Apabila sholat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.”

(QS. Al-Jumu’ah: 10)

Ayat tersebut menunjukkan bahwa setelah melaksanakan sholat, manusia diperbolehkan kembali beraktivitas dan mencari karunia Allah.

Artinya, bekerja dan beribadah bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Kita bisa bekerja sekaligus menjaga sholat.

Kita bisa berdagang sekaligus mengingat Allah.

Kita bisa mengejar target pekerjaan tanpa meninggalkan kewajiban sebagai seorang Muslim.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai pekerjaan yang seharusnya menjadi sarana mencari rezeki justru membuat kita melupakan Zat yang memberikan rezeki.

Ketika Pekerjaan Mulai Menggeser Waktu Sholat

Salah satu tantangan yang sering terjadi adalah ketika pekerjaan terasa tidak ada habisnya.

“Sebentar lagi.”

“Nanti kalau sudah selesai.”

“Tanggung, tinggal sedikit.”

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana.

Namun, jika terus dilakukan, menunda sholat bisa menjadi sebuah kebiasaan.

Padahal, pekerjaan hampir selalu akan ada.

Target akan selalu datang.

Pesanan akan terus masuk.

Pelanggan akan datang lagi.

Tugas baru akan menunggu.

Jika kita selalu menunggu pekerjaan selesai untuk kemudian sholat, bisa jadi kita justru terus-menerus menemukan alasan untuk menundanya.

Karena itu, bukan pekerjaan yang harus selalu ditunggu selesai terlebih dahulu.

Kita perlu belajar mengatur pekerjaan agar tetap bisa menunaikan sholat pada waktunya.

Sholat Bukan Penghalang Rezeki

Ada orang yang mungkin merasa khawatir jika meninggalkan pekerjaannya sebentar untuk sholat.

Pedagang takut kehilangan pembeli.

Karyawan takut pekerjaannya tidak selesai.

Pekerja lapangan khawatir targetnya tertunda.

Kekhawatiran tersebut dapat dipahami.

Namun, jangan sampai kita memiliki keyakinan bahwa berhenti sejenak untuk menunaikan sholat akan membuat rezeki menjadi tertutup.

Rezeki bukan semata-mata berasal dari pelanggan, perusahaan, atasan, atau tempat kita bekerja.

Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Ar-Razzaq, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki.

Karena itu, menjaga sholat seharusnya tidak dipandang sebagai penghalang untuk mendapatkan rezeki.

Justru, sholat merupakan bentuk ketaatan kepada Allah yang harus dijaga di tengah berbagai kesibukan.

Pedagang Pun Bisa Menjaga Sholat

Bayangkan seorang pedagang yang sedang ramai pembeli.

Pesanan datang bertubi-tubi.

Pelanggan menunggu.

Tentu tidak mudah meninggalkan aktivitas begitu saja.

Namun, bukan berarti tidak ada solusi.

Jika memungkinkan, pedagang dapat mengatur waktu, meminta bantuan orang terdekat untuk menjaga dagangan sementara, atau memberi tahu pelanggan bahwa ia akan menunaikan sholat terlebih dahulu.

Tidak harus menunggu toko kosong sepanjang hari.

Yang diperlukan adalah kemauan untuk mengatur aktivitas.

Hal yang sama berlaku bagi siapa pun yang bekerja.

Jika ada waktu istirahat, gunakan sebagian waktu tersebut untuk menunaikan sholat ketika waktunya telah masuk.

Dengan begitu, pekerjaan tetap berjalan dan kewajiban kepada Allah juga tidak ditinggalkan.

Jangan Sampai Kita Hanya Mengejar Dunia

Ada hal yang perlu kita renungkan.

Untuk mendapatkan uang, kita rela bangun pagi.

Untuk mengejar pekerjaan, kita rela menempuh perjalanan jauh.

Untuk mendapatkan jabatan, kita rela belajar dan bekerja keras.

Untuk membeli sesuatu yang kita inginkan, kita rela menabung selama berbulan-bulan.

Semua itu tidak salah.

Namun, bagaimana dengan kehidupan setelah dunia?

Apakah kita memiliki kesungguhan yang sama untuk mempersiapkan kehidupan akhirat?

Pertanyaan tersebut bukan untuk membuat kita meninggalkan pekerjaan.

Justru sebaliknya, pertanyaan ini mengajak kita menempatkan dunia dan akhirat secara seimbang.

Dunia tetap perlu diusahakan.

Kebutuhan keluarga harus dipenuhi.

Pekerjaan harus dilakukan dengan baik.

Tetapi jangan sampai semua itu membuat kita lupa bahwa kehidupan dunia bukanlah tujuan akhir.

Allah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kebahagiaan negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia.”

(QS. Al-Qashash: 77)

Ayat tersebut mengajarkan keseimbangan: mengejar kebaikan akhirat tanpa melupakan bagian kita di dunia.

Berapa Banyak Uang yang Sebenarnya Kita Butuhkan?

Mengejar penghasilan yang lebih baik bukan sesuatu yang salah.

Tetapi manusia perlu berhati-hati agar keinginan mendapatkan lebih banyak tidak pernah mengenal kata cukup.

Ketika penghasilan meningkat, keinginan bisa ikut meningkat.

Ketika mendapatkan sesuatu, muncul keinginan terhadap sesuatu yang lain.

Akhirnya, seseorang terus bekerja tanpa berhenti karena merasa belum cukup.

Di sinilah pentingnya bertanya kepada diri sendiri:

“Apakah aku sedang mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan, atau sudah menjadikan uang sebagai tujuan utama hidup?”

Pertanyaan tersebut mungkin sederhana, tetapi bisa menjadi bahan introspeksi.

Sebab, sebanyak apa pun harta yang dimiliki, semuanya tetap akan ditinggalkan ketika kehidupan dunia berakhir.

Jangan Menunggu Hidup Luang untuk Mulai Rajin Sholat

Sebagian orang mungkin berpikir:

“Nanti kalau sudah tidak sibuk, saya akan lebih rajin ibadah.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah selesai, saya akan memperbaiki sholat.”

“Nanti kalau usaha sudah sukses, saya akan lebih banyak beribadah.”

Masalahnya, kita tidak pernah tahu kapan hidup akan benar-benar menjadi “luang”.

Kesibukan hari ini mungkin berganti dengan kesibukan lainnya.

Karena itu, jangan menunggu keadaan sempurna untuk mulai memperbaiki sholat.

Mulailah dari sekarang.

Jika selama ini sering menunda, coba perlahan disiplinkan diri.

Jika pekerjaan membuat sulit menjaga waktu sholat, cari cara untuk mengaturnya.

Jika selama ini terlalu sibuk mengejar dunia, sisihkan waktu untuk mengingat kembali tujuan hidup.

Rezeki yang Dicari Jangan Sampai Membuat Kita Kehilangan Arah

Pada akhirnya, bekerja dan mencari uang bukanlah kesalahan.

Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menjalankannya.

Carilah rezeki yang halal.

Bekerjalah dengan jujur.

Jalankan tanggung jawab dengan baik.

Berusahalah meningkatkan kehidupan.

Namun, di tengah semua itu, jangan tinggalkan sholat.

Jangan sampai kita begitu sibuk mengejar sesuatu yang sementara hingga lupa mempersiapkan sesuatu yang kekal.

Karena uang memang penting untuk kehidupan.

Tetapi uang bukanlah segala-galanya.

Kita membutuhkan uang untuk makan, tempat tinggal, pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan keluarga. Namun, kita juga membutuhkan hubungan yang baik dengan Allah.

Maka, ketika adzan terdengar di tengah kesibukan, mungkin itulah saat yang tepat untuk berhenti sejenak dan mengingat kembali:

“Untuk siapa sebenarnya aku bekerja keras selama ini?”

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh.

Berikhtiarlah mencari rezeki yang halal.

Tetapi jangan biarkan kesibukan mencari dunia membuat kita lupa kepada Allah.

Sebab pada akhirnya, bukan hanya tentang berapa banyak uang yang berhasil kita kumpulkan, tetapi juga tentang bagaimana kita menggunakan waktu dan kesempatan hidup yang Allah berikan.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar rezeki sampai lupa kepada Pemberi Rezeki.