Umat Islam di Indonesia akan kembali menyambut salah satu momentum yang banyak dinantikan, yakni Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah. Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia Tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama, Maulid Nabi Muhammad SAW bertepatan dengan Selasa, 25 Agustus 2026.

Momen Maulid biasanya dimanfaatkan umat Islam untuk kembali mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW, membaca sejarah kehidupan beliau, memperbanyak selawat, serta mengambil pelajaran dari akhlak dan perjuangan Rasulullah.

Lantas, apa sebenarnya makna Maulid Nabi dan amalan apa yang dapat dilakukan umat Islam?

Apa Itu Maulid Nabi?

Maulid Nabi secara umum merujuk pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dalam tradisi masyarakat Muslim di Indonesia, peringatan ini sering diisi dengan pengajian, pembacaan sholawat, pembacaan sirah atau sejarah Nabi, doa bersama, hingga kegiatan sosial.

Peringatan Maulid bukan sekadar acara seremonial. Momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk kembali mempelajari perjalanan Rasulullah dan menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kementerian Agama sendiri telah mencantumkan 25 Agustus 2026 sebagai Maulid Nabi Muhammad SAW dalam kalender Hijriah Indonesia 2026. Sejumlah kegiatan masyarakat juga mulai dipersiapkan menjelang momentum tersebut. Misalnya, Kemenag Kepulauan Seribu melaporkan persiapan Festival Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H yang direncanakan berlangsung pada akhir Agustus hingga awal September 2026.

Mengapa Maulid Nabi Diperingati?

Mencintai Nabi Muhammad SAW merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya ditunjukkan melalui ucapan.

Salah satu bentuk kecintaan yang penting adalah berusaha mengikuti ajaran dan akhlak beliau.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 31:

“Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”

Ayat tersebut menekankan bahwa kecintaan kepada Allah juga berkaitan dengan mengikuti Rasulullah.

Karena itu, momentum Maulid dapat digunakan untuk mengingat kembali bagaimana Rasulullah bersikap kepada keluarga, tetangga, orang miskin, anak-anak, bahkan kepada orang yang berbeda pandangan dengan beliau.

Mengenang Nabi Bukan Hanya Tentang Kelahiran

Salah satu hal yang penting dalam memperingati Maulid adalah tidak berhenti pada kisah kelahiran Nabi.

Rasulullah Muhammad SAW merupakan sosok yang menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang amanah, jujur, penyayang, sederhana, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

Al-Qur’an menyebut Rasulullah sebagai uswah hasanah, atau teladan yang baik, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Ahzab ayat 21.

Karena itu, Maulid seharusnya dapat menjadi momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana kita meneladani Rasulullah?

Misalnya, apakah kita sudah menjaga kejujuran ketika berdagang? Apakah kita menjaga ucapan ketika menggunakan media sosial? Apakah kita menghormati orang tua dan menyayangi anak-anak? Apakah kita peduli terhadap tetangga dan orang yang membutuhkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar meramaikan sebuah acara.

Apa Saja Amalan yang Bisa Dilakukan?

Ada banyak kegiatan positif yang dapat dilakukan untuk mengisi momentum Maulid. Namun, penting untuk membedakan antara amalan yang memiliki dasar dalam syariat dan bentuk kegiatan peringatan yang merupakan tradisi masyarakat.

Salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah memperbanyak sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Selain itu, umat Islam dapat membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bersedekah, memperbanyak amal kebaikan, serta mempelajari sirah Nabi.

Majelis Ulama Indonesia dalam salah satu artikelnya mengenai Maulid menyebut sejumlah kegiatan yang dapat dilakukan, antara lain membaca sholawat, berdzikir, membaca sejarah Rasulullah, bersedekah kepada orang yang membutuhkan, mempererat silaturahmi, dan mengadakan kajian yang berisi keteladanan Nabi.

Dengan demikian, Maulid dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas ibadah sekaligus kepedulian sosial.

Bagaimana dengan Puasa?

Puasa juga menjadi salah satu amalan yang sering dikaitkan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ pernah ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab bahwa hari tersebut merupakan hari ketika beliau dilahirkan dan hari ketika wahyu diturunkan kepada beliau. MUI juga menggunakan hadis tersebut dalam penjelasannya mengenai Maulid Nabi.

Namun, umat Islam tidak perlu menganggap bahwa ada satu bentuk ibadah tertentu yang  wajib dilakukan khusus pada tanggal Maulid.

Yang lebih penting adalah memperbanyak amal ibadah yang memang dianjurkan dalam Islam dan menjadikannya sebagai sarana untuk semakin dekat kepada Allah.

Ada Perbedaan Pendapat tentang Peringatan Maulid

Pembahasan mengenai Maulid Nabi juga tidak terlepas dari perbedaan pendapat di kalangan umat Islam.

Sebagian ulama membolehkan peringatan Maulid dengan syarat kegiatan di dalamnya berisi hal-hal yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat. MUI, misalnya, dalam salah satu penjelasannya menyatakan bahwa peringatan Maulid diperbolehkan dan dapat diisi dengan kegiatan seperti membaca Al-Qur’an, selawat, kajian sejarah Nabi, sedekah, dan silaturahmi.

Di sisi lain, terdapat kelompok ulama dan umat Islam yang tidak menganggap peringatan Maulid sebagai bentuk ibadah khusus yang disyariatkan karena Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tidak memiliki tradisi peringatan Maulid sebagaimana yang dikenal sekarang.

Perbedaan pandangan ini sebaiknya tidak menjadi alasan untuk saling mencela atau bermusuhan.

Yang perlu dijaga adalah sikap saling menghormati dan tidak menganggap perbedaan dalam persoalan fikih sebagai alasan untuk memutus persaudaraan.

Jadikan Maulid sebagai Momentum Memperbaiki Diri

Hal yang paling penting dari momentum Maulid bukanlah seberapa meriah sebuah acara digelar.

Lebih dari itu, Maulid dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri dengan meneladani Rasulullah.

Jika sebelumnya mudah marah, belajar untuk lebih sabar.

Jika sebelumnya sering berkata kasar, belajar menjaga lisan.

Jika sebelumnya kurang peduli kepada orang lain, mulai memperbanyak sedekah dan membantu sesama.

Jika selama ini jarang membaca sejarah Nabi, momentum Maulid bisa menjadi awal untuk mengenal perjalanan hidup Rasulullah lebih dekat.

Dengan cara seperti itu, kecintaan kepada Nabi tidak hanya terlihat ketika bulan Maulid tiba, tetapi juga tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Maulid Nabi 25 Agustus 2026, Apa yang Bisa Dilakukan?

Dengan semakin dekatnya 25 Agustus 2026, umat Islam dapat mempersiapkan diri dengan memperbanyak amal yang baik.

Tidak harus menunggu adanya acara besar. Membaca Al-Qur’an di rumah, memperbanyak sholawat, bersedekah, membantu tetangga, menghadiri kajian, membaca sirah Nabi, dan memperbaiki akhlak merupakan beberapa bentuk kegiatan positif yang dapat dilakukan.

Jika mengikuti acara Maulid di masjid atau lingkungan sekitar, masyarakat juga dapat menjadikannya sebagai kesempatan untuk mempererat silaturahmi.

Pada akhirnya, Maulid Nabi bukan hanya tentang mengingat kapan Rasulullah dilahirkan. Yang lebih penting adalah mengingat kembali ajaran beliau dan berusaha mengamalkannya.

Penutup

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H akan diperingati pada 25 Agustus 2026 berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama.

Momentum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk kembali mengenal Rasulullah, memperbanyak sholawat, membaca sirah, bersedekah, mempererat silaturahmi, serta yang paling utama adalah meneladani akhlak beliau.

Sebab, mencintai Rasulullah bukan hanya tentang mengenang kelahirannya, tetapi juga tentang berusaha mengikuti ajaran dan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.