Di tengah deru kehidupan modern, sebuah kalimat mendalam pernah dilontarkan oleh André Gorz, seorang filsuf dan sosiolog kenamaan asal Prancis: “Kapitalisme membuat kita sibuk bekerja, agar kita lupa bertanya untuk apa kita hidup.”

Pernyataan ini terasa begitu menusuk. Dalam realitas masyarakat modern, kita kerap terjebak dalam roda putar yang seolah tidak ada habisnya. Kita bangun pagi, menembus kemacetan, bekerja delapan hingga belas jam sehari, menerima gaji, membelanjakannya untuk konsumsi atau membayar tagihan, lalu mengulanginya lagi esok hari.

Gorz dengan sangat jeli menguliti kebobrokan sistem ini. Menurutnya, kapitalisme dirancang bukan sekadar sebagai sistem ekonomi, melainkan sebagai mesin penyeragamaan pola pikir. Sistem ini membuat manusia terus-menerus berada dalam kondisi alienasi (pengasingan diri) dan kelelahan mental. Ketika seluruh energi dan waktu habis dialokasikan untuk bertahan hidup, bersaing secara ekonomi, atau memenuhi gaya hidup konsumtif, manusia kehilangan idle time—ruang tenang yang dibutuhkan untuk merenungi pertanyaan-pertanyaan paling mendasar: Siapa saya? Apa makna pekerjaan ini? Dan untuk apa sebenarnya saya hidup di dunia ini?

Bagi Gorz, tujuan ideal manusia adalah meraih otonomi waktu dan kemerdekaan diri. Manusia harus dibebaskan dari dominasi pasar agar bisa menentukan sendiri makna keberadaannya—baik melalui seni, hubungan sosial, maupun pengembangan potensi diri di luar kalkulasi finansial.

Namun, pertanyaannya adalah: Apakah pencapaian pemikiran Gorz yang begitu hebat ini sudah cukup untuk menjawab teka-teki terbesar eksistensi manusia?

Perbandingan: Otonomi Antroposentris vs. Ketundukan Teosentris

Jika kita membenturkan pandangan André Gorz dengan ajaran Islam, kita akan menemukan sebuah garis demarkasi yang sangat jelas. Meskipun di permukaan tampak ada kemiripan dalam menolak kezaliman sistem materialistis, fondasi dasar keduanya berdiri di atas pijakan yang berseberangan.

+-------------------+----------------------------------------+----------------------------------------+
| Elemen Perbandingan| Perspektif André Gorz (Filsafat Modern) | Perspektif Islam (Wahyu Ilahi)        |
+-------------------+----------------------------------------+----------------------------------------+
| Sumber Tujuan     | Subjektif / Antroposentris              | Objektif / Teosentris                  |
|                   | (Dirumuskan sendiri oleh akal manusia) | (Diturunkan oleh Sang Pencipta)        |
+-------------------+----------------------------------------+----------------------------------------+
| Tujuan Akhir      | Kemerdekaan Diri di Dunia              | Ibadah, Ridha Allah, dan Akhirat       |
|                   | (Otonomi waktu & self-realization)     | (Menjadi 'Abdullah & Khalifah)         |
+-------------------+----------------------------------------+----------------------------------------+
| Makna Kerja       | Potensi alienasi / Alat eksploitasi     | Bagian dari ibadah & muamalah          |
|                   | (Harus dikurangi seminimal mungkin)    | (Selama dilakukan secara halal & seimbang)|
+-------------------+----------------------------------------+----------------------------------------+

Islam tidak menolak perlunya waktu luang atau kebebasan dari eksploitasi. Sebaliknya, Islam sangat menentang sikap israf (berlebih-lebihan), takatsur (berbangga-bangga dengan kemewahan dunia), dan eksploitasi sesama manusia. Islam mengajarkan konsep Tawazun—keseimbangan antara porsi dunia dan akhirat.

Namun, perbedaannya terletak pada tujuan akhir. Gorz berusaha membebaskan manusia dari perbudakan kapitalisme agar manusia menjadi tuan atas dirinya sendiri. Sementara itu, Islam membebaskan manusia dari perbudakan materi agar manusia sepenuhnya menjadi hamba Allah SWT. Dalam Islam, kemerdekaan sejati bukan berarti bebas tanpa aturan (kebebasan otonom mutlak), melainkan kebebasan dari menyembah makhluk dan materi menuju ketundukan kepada Sang Pencipta.

Mengapa Para Imam Mazhab Mewaspadai Filsafat Metafisika?

Melihat jurang perbedaan ini, timbul pertanyaan lanjutan: Mengapa filsafat murni sering kali melenceng jauh dari konsep kebenaran agama? Hal inilah yang menjadi alasan mengapa para ulama klasik dan Empat Imam Mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal) memberikan peringatan yang sangat keras terhadap pengadopsian filsafat metafisika dan Ilmu Kalam spekulatif.

Sering kali timbul kesalahpahaman bahwa para Imam Mazhab melarang penggunaan akal atau berpikir kritis. Ini tentu tidak benar, sebab logika (Mantiq) dan nalar rasional justru menjadi alat utama dalam menyusun metodologi hukum Islam (Ushul Fiqh). Yang ditolak secara tegas oleh para imam adalah filsafat metafisika Yunani yang mencoba mendefinisikan Tuhan, alam gaib, dan hakikat tujuan hidup semata-mata dengan mengandalkan akal murni tanpa bimbingan wahyu.

Sebab-sebab utama penolakan tersebut meliputi:

  1. Keterbatasan Alat Akal: Akal manusia diciptakan dengan batas-batas tertentu. Akal sangat ampuh untuk mengolah data empiris, sains, dan urusan muamalah praktis, tetapi tidak dirancang untuk menembus alam gaib, hakikat Dzat Allah, atau takdir.

  2. Kerapuhan Hasil Pikir Manusia: Filsafat metafisika yang bersandar pada logika subjektif selalu menghasilkan spekulasi tanpa akhir. Pemikiran seorang filsuf akan selalu dibantah oleh filsuf berikutnya, menciptakan lingkaran perdebatan yang melalaikan manusia dari amal nyata.

  3. Penyimpangan Akidah: Ketika akal dipaksa menjadi hakim atas wahyu, timbul kecenderungan untuk menolak teks-teks agama (ta’thil) atau menyamakannya dengan dimensi makhluk (tasybih).

Keterbatasan Filsafat dan Kebenaran Mutlak Wahyu

Kritik André Gorz terhadap kapitalisme adalah bukti betapa tajamnya akal manusia dalam menganalisis masalah-masalah sosial di sekitarnya. Pencapaian Gorz dan para pemikir besar dunia memang sangat mengagumkan dalam mendiagnosis “penyakit” masyarakat modern.

Namun, di sinilah letak batas tertinggi dari filsafat. Filsafat mampu menguraikan kecacatan sistem buatan manusia, tetapi ia tidak akan pernah sanggup memberikan jawaban pemungkas mengenai hakikat tujuan penciptaan. Tanpa kompas wahyu, filsafat hanya menawarkan “tujuan hidup buatan” yang rapuh, berubah-ubah sesuai zaman, dan sering kali justru kembali terjebak dalam arus ideologi baru.

Sejauh apa pun akal manusia berkelana, filsafat murni tidak akan pernah sampai pada jawaban yang telah digariskan secara lugas oleh Sang Pencipta dalam Al-Qur’an:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku (beribadah kepada-Ku).” (QS. Az-Zariyat: 56)

Ayat ini menyederhanakan rumitnya perdebatan eksistensial manusia selama ribuan tahun. Tujuan hidup kita bukanlah sekadar bekerja untuk menumpuk materi, bukan pula sekadar mencari kebebasan otonom di dunia yang fana. Tujuan hidup manusia adalah menghambakan diri secara utuh kepada Allah SWT—sebuah penghambaan yang justru melahirkan kemerdekaan paling hakiki dari segala bentuk perbudakan duniawi.

Menjadikan Wahyu Sebagai Kompas Utama

Filsafat, dengan segala kecemerlangannya, berada jauh dari kebenaran mutlak. Ia ibarat cermin yang bisa menunjukkan betapa kotornya wajah kita akibat debu-debu sistem dunia, tetapi ia tidak memiliki air untuk membersihkannya. Air pembersih dan petunjuk jalan itu hanya ada pada wahyu Ilahi.

Oleh karena itu, marilah kita senantiasa bersandar pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai kompas utama dalam mengarungi kehidupan. Jangan sampai kita menggantungkan pencarian makna dan kebenaran sejati pada filsafat yang serba spekulatif. Kebenaran mutlak tidak akan pernah ditemukan pada ruang-ruang perdebatan akal murni, melainkan pada petunjuk Allah SWT yang menentramkan jiwa, melapangkan dada, dan membimbing manusia menuju keselamatan di dunia hingga akhirat.