Pernahkah kau duduk diam di malam hari, mendengar angin pelan menggerakkan daun-daun di luar jendela? Atau melihat sehelai daun gugur begitu saja di siang hari, tanpa ada yang memperhatikannya? Kita sering menganggapnya biasa. “Ah, cuma daun.” Tapi Al-Qur’an bilang lain.
Allah berfirman dalam Surah Al-An’am ayat 59:
“Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-bijian dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata.”
Bayangkan. Sehelai daun. Di malam yang gelap. Di hutan yang sepi. Jatuh. Dan Allah mengetahuinya. Bukan sekadar “tahu”, tapi tercatat. Tidak ada yang luput. Tidak ada yang kebetulan.
Kalau daun saja begitu, apalagi bumi kita? Apalagi hidup kita?
Kita hidup di planet yang jaraknya pas banget dari matahari. Sedikit lebih dekat, laut mendidih. Sedikit lebih jauh, membeku. Di dalam perut bumi ada inti besi cair yang berputar, menghasilkan medan magnet yang melindungi atmosfer kita dari angin matahari. Bulan menstabilkan kemiringan poros bumi supaya musim tidak kacau. Jupiter seperti penjaga gerbang yang menyapu banyak asteroid berbahaya. Semua “pas” secara bersamaan.
Ilmuwan menyebutnya Rare Earth — Bumi Langka. Mereka bilang, peluangnya sangat kecil. Hampir mustahil semua faktor ini berkumpul di satu tempat. Tapi bagi yang beriman, ini bukan keberuntungan statistik. Ini rancangan. Karena Yang Maha Sempurna, kalau merencanakan sesuatu, pasti sempurna. Tidak ada yang kebetulan.
Coba pikirkan lagi. Kalau daun yang gugur di kegelapan malam saja diketahui, apakah mungkin orbit bumi yang stabil selama miliaran tahun itu kebetulan? Apakah mungkin komposisi atmosfer yang pas untuk kehidupan itu kebetulan? Apakah mungkin detak jantungmu yang terus berdetak tanpa kau perintahkan itu kebetulan?
Kita sering merasa hidup ini acak. Ada yang dilahirkan di keluarga kaya, ada yang miskin. Ada yang sehat, ada yang sakit. Ada yang mudah dapat rezeki, ada yang susah. Kita bilang “nasib”, “keberuntungan”, atau “kebetulan”. Tapi Al-Qur’an mengajak kita melihat lebih dalam.
Setiap detak. Setiap napas. Setiap langkah. Setiap daun yang gugur. Semua dalam pengetahuan-Nya. Semua dalam ketentuan-Nya. Tidak ada yang lepas.
Ini bukan berarti kita pasrah tanpa usaha. Justru sebaliknya. Karena semuanya diketahui dan diatur, kita bisa tenang. Kita berusaha sebaik mungkin, lalu berserah. Kita tidak perlu khawatir berlebihan. Kita tidak perlu merasa sendirian di tengah kegelapan.
Ingat para penyihir Fir’aun. Mereka melihat kebenaran yang jelas, lalu tersungkur beriman. Hidayah memang mahal. Tidak semua orang yang melihat tanda-tanda langsung membuka hati. Tapi tanda-tanda itu ada di mana-mana. Di daun yang gugur. Di bintang yang beredar. Di bumi yang “pas” luar biasa. Di diri kita sendiri yang begitu rumit dan indah.
Kadang kita terlalu sibuk dengan urusan besar, sampai lupa yang kecil. Padahal yang kecil itulah yang sering mengingatkan. Sehelai daun jatuh. Angin berhembus. Hujan turun. Matahari terbit lagi. Semua berjalan tanpa kekacauan. Semua dalam aturan yang sempurna.
Kalau kau sedang di tengah kesulitan, ingat: bahkan daun yang gugur di malam gelap pun diketahui. Apalagi air matamu. Apalagi doamu yang pelan. Apalagi harapan yang kau simpan diam-diam. Tidak ada yang sia-sia. Tidak ada yang terlewat.
Dan kalau kau sedang bahagia, ingat juga: kebahagiaan itu bukan kebetulan. Itu bagian dari ketentuan yang lebih besar. Bersyukurlah, supaya hati tetap lembut.
Dunia ini penuh tanda. Tapi tanda itu hanya bermakna bagi yang mau melihat. Bagi yang hatinya terbuka. Bagi yang tidak memaksakan segala sesuatu harus “kebetulan” saja.
Tidak ada yang kebetulan. Bahkan sehelai daun. Bahkan detak jantungmu sekarang. Bahkan pikiran yang sedang kau baca ini.
Semuanya diketahui. Semuanya tercatat. Semuanya dalam genggaman Yang Maha Mengetahui.
Jadi, lain kali kau melihat daun gugur — di siang atau di malam — coba senyum sebentar. Itu bukan sekadar daun. Itu pengingat kecil bahwa kau tidak hidup di dunia yang acak. Kau hidup di dunia yang dijaga, diatur, dan diketahui sampai ke detail terkecil.
Dan kalau hati sudah mulai merasakan itu, mungkin langkah berikutnya akan lebih ringan. Lebih tenang. Lebih yakin bahwa di balik semua yang terlihat “biasa”, ada Yang Maha Sempurna yang tidak pernah lengah.
Tidak ada yang kebetulan. Sama sekali.