Ketika ujian kehidupan melanda—baik berupa krisis ekonomi, bencana alam, kemarau panjang yang mengeringkan sumber-sumber air, hingga kesempitan hidup—reaksi pertama seorang mukmin yang sadar akan hakikat tauhid adalah bermuhasabah (mengevaluasi diri). Ujian dan musibah tidak pernah terjadi di muka bumi ini melainkan atas izin Allah SWT, dan sering kali ia merupakan cermin dari apa yang telah diperbuat oleh tangan-tangan manusia sendiri.
Namun, sangat disayangkan ketika sebagian masyarakat menghadapi krisis atau bencana, langkah yang diambil justru jauh dari petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Bukannya bersimpuh memohon ampunan kepada Sang Pencipta, sebagian orang malah menggelar pertunjukan-pertunjukan budaya yang di dalamnya diselipi ritual-ritual yang tidak ada tuntunannya, atau bahkan menyertakan sesaji-sesaji yang dipersembahkan kepada selain Allah.
Pertanyaannya: Apakah perbuatan tersebut akan mendatangkan kebaikan, atau justru sebaliknya, menambah kerugian dan mengundang kemurkaan Allah SWT?
1. Hakikat Muhasabah: Menatap Cermin Dosa Diri
Kata muhasabah berasal dari akar kata bahasa Arab yang berarti menghitung atau mengintrospeksi. Dalam istilah syar’i, muhasabah adalah proses seorang hamba memeriksa kembali amalan, niat, dan perjalanan hidupnya untuk disesuaikan dengan tuntunan syariat.
Umar bin Khattab RA pernah berkata dalam sebuah atsar yang sangat masyhur:
“Evaluasilah ( hisablah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah), dan timbanglah amalan kalian sebelum amalan itu ditimbang kelak.”
Ketika tanah menjadi kering, sungai-sungai surut, dan rezeki terasa sulit, seorang mukmin tidak akan sibuk menyalahkan alam belaka. Ia akan bertanya pada dirinya sendiri:
-
Apakah ada hak-hak Allah yang selama ini saya abaikan?
-
Apakah kewajiban zakat harta saya sudah ditunaikan dengan benar?
-
Apakah ada perbuatan dosa dan penyimpangan akidah yang masih saya biarkan di sekitar saya?
Al-Qur’an telah menegaskan hubungan langsung antara perbuatan manusia dengan kerusakan yang terjadi di alam:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (dampak) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rrum: 41)
Bencana dan krisis pada hakikatnya adalah “teguran penuh kasih sayang” dari Allah agar manusia sadar dan kembali (ruju’) ke jalan yang lurus.
2. Realita Budaya dan Bahaya Menyelisihi Tauhid
Seni dan budaya pada dasarnya adalah hasil cipta, rasa, dan karsa manusia. Dalam batas-batas tertentu yang murni hiburan atau nilai kebiasaan yang netral (‘urf), Islam tidak serta-merta melarangnya selama tidak melanggar syariat. Namun, garis batas menjadi sangat tegas ketika seni atau pertunjukan budaya itu berkelindan dengan keyakinan mistis, ritual penolakan bala yang tidak syar’i, atau pemberian sesaji.
Dalam tradisi pewayangan atau pagelaran adat tertentu, sering kali kita menyaksikan ritual penyandingan sesaji—baik berupa tumpeng khusus, kepala hewan, bunga-bunga, hingga pembakaran kemenyan—yang ditujukan untuk “menenangkan” kekuatan alam, menyapa waktu-waktu tertentu (seperti sandekala), atau menghormati penunggu tempat-tempat sakral seperti sungai dan gunung.
Mengapa Ini Berbahaya?
-
Memalingkan Hak Ibadah kepada Selain Allah
Menyembelih hewan, memberikan hidangan/sesaji, atau memohon keselamatan kepada kekuatan alam maupun makhluk halus adalah bentuk pengagungan yang hanya berhak ditujukan kepada Allah SWT. Allah berfirman:
“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku (termasuk sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya…” (QS. Al-An’am: 162-163)
-
Perbuatan Sia-sia yang Menambah Kerugian
Melakukan pertunjukan seni yang menghabiskan biaya besar dengan niat atau cara-cara yang menyelisihi tauhid tidak akan memberikan efek kebaikan apa pun bagi terangkatnya musibah. Ia tidak bisa mendatangkan hujan, tidak bisa menyuburkan tanah, dan tidak bisa menghilangkan wabah. Yang ada, ia justru menambah kerugian materi dan kerugian spiritual.
-
Mengundang Kemurkaan (Ghadhab) Allah
Dosa terbesar dalam Islam adalah menyukutukan Allah (syirik) atau mendekati celah-celahnya (sadd adz-dzari’ah). Ketika sebuah kaum tertimpa bencana lalu meresponsnya dengan amalan yang mengundang syirik atau khurafat, mereka bukan sedang menyelesaikan masalah, melainkan sedang memicu datangnya kemurkaan Allah yang lebih besar.
3. Sebab Terhalangnya Rahmat: Ketika Zakat Ditahan dan Dosa Merajalela
Banyak orang bertanya-tanya, mengapa bencana atau kekeringan bisa bertahan begitu lama? Mengapa doa-doa rasanya lambat terkabul?
Jika kita merujuk pada As-Sunnah yang shahih, Rasulullah SAW telah membeberkan salah satu pemicu utama ditahannya rahmat berupa air hujan dari langit: keengganan menunaikan zakat.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Dan tidaklah suatu kaum enggan menunaikan zakat harta-harta mereka, melainkan akan ditahan untuk mereka hujan dari langit. Seandainya bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya mereka tidak akan diberi hujan.”
(HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim)
Hadits ini adalah peringatan yang amat keras. Ketika orang-orang kaya atau para pemilik harta enggan mengeluarkan hak fakir miskin (zakat), atau ketika masyarakat menganggap sepele kewajiban zakat maal dan pertanian, Allah menahan salah satu nikmat terbesar-Nya, yaitu hujan.
Bukan pagelaran seni atau sesaji yang mampu membuka kembali pintu-pintu langit, melainkan ketaatan hukum syariat: menunaikan zakat, bersedekah, dan meninggalkan transaksi-transaksi yang haram.
4. Jalan Keluar Syar’i: Apa yang Harus Kita Lakukan?
Islam tidak pernah meninggalkan umatnya dalam kebingungan. Ketika krisis melanda—seperti kekeringan ekstrem atau kesempitan hidup—Al-Qur’an dan As-Sunnah telah memberikan panduan yang sangat jelas, otentik, dan terbukti membawa keberkahan.
[ Ujian / Krisis / Kekeringan Melanda ]
│
▼
[ Solusi Syar'i Menurut Sunnah ]
│
┌──────────────────────┼──────────────────────┐
▼ ▼ ▼
Istighfar & Taubat Menunaikan Zakat Shalat Istisqa'
(QS. Nuh: 10-11) & Membantu Sesama (Tuntunan Nabi)
A. Memperbanyak Istighfar dan Taubat Nasuha
Allah SWT mengabadikan perkataan Nabi Nuh AS kepada kaumnya dalam Al-Qur’an:
“Maka aku berkata (kepada mereka), ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu (beristighfar), sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia akan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.’”
(QS. Nuh: 10-12)
Kunci utama terbukanya rezeki dan turunnya rahmat adalah istighfar kolektif. Seluruh elemen masyarakat, dari pemimpin hingga rakyat biasa, menyadari kesalahan dan bertaubat kepada Allah.
B. Menunaikan Zakat dan Memperbanyak Sedekah
Jika penahanan zakat menjadi sebab ditahannya hujan, maka mengeluarkannya adalah kunci pembukanya. Mari periksa kembali harta dan hasil pertanian kita. Pastikan hak-hak fakir miskin telah disalurkan dengan benar sesuai ketentuan fiqih zakat.
C. Melaksanakan Shalat Istisqa’
Ketika terjadi kekeringan, Rasulullah SAW dan para sahabat tidak membuat festival atau pementasan budaya. Beliau mengajak seluruh masyarakat keluar menuju lapangan dengan pakaian yang sederhana, menunjukkan rasa butuh (iftiqar) dan kerendahan hati di hadapan Allah, lalu memimpin Shalat Istisqa’ (shalat meminta hujan) yang diiringi dengan khutbah dan doa yang tulus.
Inilah amalan yang dicintai Allah dan dicontohkan oleh Nabi SAW—bukan tontonan yang diwarnai sesaji atau simbol-simbol mitologi.
5. Kesimpulan: Kembali ke Jalan yang Murni
Saudaraku, kehidupan dunia ini sangat singkat, dan keridaan Allah adalah satu-satunya tujuan yang harus kita kejar.
Sudah saatnya kita meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak mendatangkan faedah bagi akidah dan kehidupan kita. Menjaga warisan budaya tentu memiliki tempatnya selama ia murni sebagai karya seni yang bersih dari kesyirikan, namun menjadikannya sebagai sarana “ritual keselamatan” atau “pemanggil rahmat” adalah sebuah kekeliruan besar.
Mari kita kembalikan semua urusan kita kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah berdasarkan pemahaman Salafus Shalih:
-
Murnikan Tauhid: Yakinlah bahwa hanya Allah yang menguasai angin, air, api, dan seluruh alam semesta.
-
Tinggalkan Syirik dan Khurafat: Jauhi segala bentuk ritual sesaji atau kepercayaan pada kekuatan selain Allah.
-
Hidupkan Sunnah: Tegakkan shalat, tunaikan zakat, perbanyak istighfar, dan jalankan Shalat Istisqa’ saat krisis air melanda.
Dengan kembali kepada ajaran Islam yang murni, insyaAllah keberkahan dari langit dan bumi akan dibukakan bagi kita, dan kita terhindar dari kerugian di dunia maupun di akhirat.