Ghibah tidak hanya dilakukan lewat lisan. Di era digital, komentar, unggahan, hingga tombol bagikan juga bisa menjadi jalan menuju dosa. Simak penjelasannya menurut Islam.
Ghibah Kini Tidak Lagi Hanya Lewat Lisan
Saat mendengar kata ghibah, banyak orang langsung membayangkan sekelompok orang yang sedang duduk bersama lalu membicarakan keburukan orang lain. Padahal, di era digital seperti sekarang, bentuk ghibah sudah jauh berbeda.
Kini, ghibah tidak hanya keluar dari lisan. Ketikan jari di media sosial, komentar yang merendahkan, unggahan yang membuka aib seseorang, hingga kebiasaan menekan tombol “bagikan” tanpa berpikir panjang juga bisa menjadi bagian dari ghibah.
Perkembangan teknologi memang memudahkan kita berkomunikasi. Namun, kemudahan itu juga bisa menjadi ujian. Hanya dalam hitungan detik, satu komentar dapat dibaca ribuan orang. Satu unggahan dapat menyebar ke berbagai platform. Dan satu gosip yang awalnya hanya diketahui segelintir orang bisa menjadi konsumsi publik.
Karena itu, seorang muslim perlu lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial.
Apa Itu Ghibah?
Dalam Islam, ghibah adalah membicarakan sesuatu tentang saudara kita yang tidak ia sukai jika mendengarnya, meskipun apa yang kita katakan itu benar.
Allah SWT berfirman:
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Ayat ini menunjukkan bahwa ghibah bukanlah dosa yang ringan. Bahkan Allah menggambarkannya dengan perumpamaan yang sangat keras agar manusia memahami betapa buruknya perbuatan tersebut.
Bentuk Ghibah yang Sering Terjadi di Media Sosial
Banyak orang melakukan ghibah tanpa menyadarinya.
Misalnya, saat ada seseorang yang sedang viral karena melakukan kesalahan. Tanpa mengetahui cerita yang sebenarnya, ribuan orang beramai-ramai menghina wajahnya, keluarganya, pekerjaannya, bahkan masa lalunya.
Ada juga yang ikut menulis komentar seperti, “Memang dari dulu orangnya begitu,” atau “Pantas saja hidupnya berantakan.”
Padahal, orang yang dikomentari mungkin tidak mengenal kita sama sekali.
Contoh lain adalah ketika seseorang membagikan tangkapan layar percakapan pribadi hanya untuk dijadikan bahan candaan. Ada pula yang meneruskan gosip di grup WhatsApp dengan alasan, “Biar yang lain juga tahu.”
Tanpa disadari, semua itu bisa menjadi bagian dari ghibah karena ikut menyebarkan keburukan orang lain.
Hati-Hati, Jempol Juga Akan Dimintai Pertanggungjawaban
Banyak orang merasa aman karena hanya mengetik.
Padahal, dalam Islam, setiap ucapan maupun tulisan akan dimintai pertanggungjawaban. Apa yang kita tulis hari ini mungkin terlihat sepele, tetapi bisa terus dibaca, dibagikan, dan menyakiti orang lain dalam waktu yang lama.
Bayangkan jika satu komentar yang kita tulis membuat orang lain malu, kehilangan pekerjaan, mengalami tekanan mental, atau bahkan putus asa. Meski kita tidak bertemu langsung dengannya, dampaknya tetap nyata.
Karena itu, sebelum menekan tombol Kirim, Komentar, atau Bagikan, cobalah bertanya kepada diri sendiri:
“Apakah tulisan ini bermanfaat? Atau justru akan melukai hati orang lain?”
Jika masih ragu, lebih baik tidak menuliskannya.
Jangan Mudah Ikut Arus
Media sosial sering membuat seseorang ikut berkomentar hanya karena melihat banyak orang melakukan hal yang sama.
Padahal, sesuatu yang dilakukan banyak orang belum tentu benar di sisi Allah SWT.
Jangan sampai kita ikut menghina seseorang hanya karena ingin dianggap lucu, ingin mendapatkan banyak tanda suka, atau sekadar mengikuti tren yang sedang viral.
Seorang muslim seharusnya menjadi penebar kebaikan, bukan penambah keramaian dalam menyebarkan keburukan.
Gunakan Media Sosial sebagai Ladang Amal
Media sosial bisa menjadi jalan menuju pahala jika digunakan dengan baik.
Satu tulisan yang mengingatkan orang untuk salat, mengajak bersedekah, berbagi ilmu yang bermanfaat, atau memberikan semangat kepada orang lain bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Sebaliknya, komentar yang berisi hinaan, ejekan, atau penyebaran aib bisa menjadi dosa yang terus mengalir selama masih dibaca dan disebarkan.
Karena itu, jadikan jempol kita sebagai sarana menyebarkan manfaat, bukan menyebarkan keburukan.
Penutup
Di era digital, dosa tidak selalu keluar dari lisan. Ia bisa hadir melalui ketikan jari, komentar, unggahan, bahkan tombol “bagikan” yang kita tekan tanpa berpikir panjang.
Setiap kata yang kita tulis akan menjadi saksi atas apa yang pernah kita lakukan. Maka sebelum menulis sesuatu di media sosial, renungkan sejenak: Apakah tulisan ini akan mendatangkan pahala atau justru menjadi beban yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT?
Semoga Allah menjaga lisan, hati, dan jempol kita agar selalu digunakan untuk menyebarkan kebaikan, bukan keburukan. Aamiin.